Gelar Sosialisasi UU KepariwisataanDenpasar (Bali Post) -
STIM & PPLP Dhyana Pura mengambil inisiatif melaksanakan seminar dalam rangka sosialisasi UU No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan. Seminar berlangsung Jumat (1/5) lalu di kampus STIM & PPLP Dhyana Pura yang dihadiri 100 peserta yang terdiri atas para dosen/instruktur beserta mahasiswa dan jajaran manajemen STIM & PPLP Dhyana Pura dan lembaga-lembaga di lingkungan GKPB.
Tampil sebagai narasumber Dewan Pengawas di Bali Tourism Board (BTB) DR. HC. John Ketut Pantja, MBA yang saat ini masih membantu Yayasan Dhyana Pura dan sebagai anggota Majelis Sinode Lengkap GKPB.
Dalam sambutan pembukaannya, Ketua STIM/Direktur PPLP Dhyana Pura Drs. Budi Santoso, M.M. mengatakan seminar ini dapat memberi pemahaman dan wawasan baru bagi peserta seminar teristimewa bagi para mahasiswa yang nantinya akan terjun ke industri pariwisata. 'Juga bermanfaat bagi para dosen dapat segera melakukan revisi materi perkuliahan terkait dengan UU kepariwisataan yang baru ini, seperti mata kuliah manajemen atraksi wisata, biografi pariwisata, aspek hukum dalam bisnis dan sebagainya,' ujarnya.
John Ketut Pantja membawakan materi seputar perbedaan UU Kepariwisataan terdahulu dan yang sekarang. Juga menyangkut jaminan penyelenggaraan industri pariwisata yang memberi harapan lebih baik di masa mendatang. Dalam UU No.10/2009 tercantum penyelenggaraan promosi pariwisata di daerah yang dikelola melalui satu pintu yaitu Badan Promosi Daerah.
John yang juga Predir PT Tour East Bali ini memaparkan ketentuan-ketentuan lain yang memberi peran dan tempat lebih luas kepada terciptanya Sustainable Tourism Development yang dilandasi oleh Community Based Tourism, dan jaminan lebih terbuka dalam hal berinvestasi di bidang industri pariwisata.
Para beserta begitu antusias mengikuti jalannya seminar. Dalam seminar muncul pertanyaan yang perlu dipikirkan lebih mendalam yakni tentang bagaimana implementasi pemberian kewenangan Badan Promosi Daerah dalam mengakomodasi keinginan tersebut.
Salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah memberikan kewenangan secara tegas dan jelas bagi organisasi-organisasi industri pariwisata untuk disertakan secara aktif dalam kepengurusan Badan Promosi Daerah di bawah naungan Bali Tourism Board.
Kamis, 07 Mei 2009
Rabu, 04 Juni 2008
Wayang Kulit
Pergelaran wayang kulit di Bali sebelum ini identik dengan pertunjukan untuk melengkapi upacara keagamaan dan adat. Sebagai tontonan, seni hiburan itu kurang menarik minat masyarakat setempat, terutama kaum muda.Namun, anggapan tersebut tidak lagi sepenuhnya benar, setelah I Wayan Nardayana melakukan terobosan, memadukan unsur tradisi dan kreasi untuk memperkaya pementasan wayang kulit Bali.
Wayang Cenk Blonk, yang disuguhkan oleh dalang yang mahasiswa Jurusan Pedalangan STSI Denpasar itu, pada suatu malam di daerah pedesaan di Kecamatan Marga, Tabanan, 21 kilometer barat laut Denpasar, tampaknya cukup memukau masyarakat setempat.
Hampir setiap pementasan wayang Cenk Blonk dipadati penonton, termasuk di Lapangan Puputan Badung, jantung Kota Denpasar, dan di perkampungan seniman Ubud untuk melengkapi rangkaian upacara keagamaan yang digelar oleh para warga setempat.
Bahkan, para penonton bisa ketagihan menyaksikan lelucon, penampilan si dalang dan gayanya yang khas dalam memainkan wayang, yang berpadu harmonis dengan permainan instrumen gamelan yang mengiringinya.
Wayang Cenk Blonk, jelas Nardayana, merupakan wayang Ramayana atau wayang Betel, bukan wayang Tantri atau wayang Babad. Cenk Blonk merupakan gabungan kependekan nama dua punakawan –Nang Klenceng dan Nang Keblong yang berwajah, suara dan perilaku lucu. Selain Klenceng dan Keblong, dalam wayang Bali ada punakawan-punakawan lain, yaitu Merdah, Tualen, Sangut dan Delem.
Menurut Nardayana, nama tersebut didapatnya dari para penonton di sebuah desa di Gianyar, waktu ia sedang mengadakan pementasan di sana. Ketika seorang penonton menanyakan apa nama wayang yang sedang dipertunjukkan itu, seorang temannya menjawab, “Wayang Cenk Blonk.” Sebelum Cenk Blonk, nama wayang yang kehadirannya dirintis sejak 1995 tersebut adalah Gita Loka (Nyanyian Alam).
Selasa, 03 Juni 2008
Kecak
Tari kecak di Bali terus mengalami perubahan dan perkembangan sejak tahun 1970-an. Perkembangan yang bisa dilihat adalah dari segi cerita dan pementasan. Dari segi cerita untuk pementasan tidak hanya berpatokan pada satu bagian dari Ramayana tapi juga bagian bagian cerita yang lain dari Ramayana.Kemudian dari segi pementasan juga mulai mengalami perkembangan tidak hanya ditemui di satu tempat seperti Desa Bona, Gianyar namun juga desa desa yang lain di Bali mulai mengembangkan tari kecak sehingga di seluruh Bali terdapat puluhan group kecak dimana anggotanya biasanya para anggota banjar. Kegiatan kegiatan seperti festival tari Kecak juga sering dilaksanakan di Bali baik oleh pemerintah atau pun oleh sekolah seni yang ada di Bali. Serta dari jumlah penari terbanyak yang pernah dipentaskan dalam tari kecak tercatat pada tahun 1979 dimana melibatkan 500 orang penari. Pada saat itu dipentaskan kecak dengan mengambil cerita dari Mahabarata. Namun rekor ini dipecahkan oleh Pemerintah Kabupaten Tabanan yang menyelenggarakan kecak kolosal dengan 5000 penari pada tanggal 29 September 2006, di Tanah Lot, Tabanan, Bali.
Langganan:
Postingan (Atom)